Rinduku Berlebihan, Gie




Rindu ku Berlebihan Gie,
Bangku taman kampus, menggaet dengan mesra nya. Seolah berbicara “kemarilah, ku beri senyum di wajahmu yang kusut itu” aku terduduk, entah bagaimana, aku tersenyum. Aku tersenyum Atas apa yang aku lihat disekeliling, harus prihatin atau tertawa renyah ? mendapati mahasiswa sekarang. Apa ini? Kampus yang seharusnya menjadi tempat dituangkannya inovasi anak muda, pemikiran kritis, dan tempat yang kata orang bijak ‘menuntut ilmu’. Justru menjadi ajang adu gengsi. Oh aku lupa, bukankah ini panggung sandiwara. Mereka seolah sedang memainkan peran seperti priyai, Paris Hilton, atau mahasiswa. Mereka seperti mahasiswa. Iya mereka yang dikampus, berjalan menggunakan sepatu ternama merk Vans, Reebok atau nike, rambut semir itam kelam dengan beberapa helainya merah padam, sedangkan dengan pede nya menenteng tas Gucci KW super. bahkan aku sulit membedakan antara parkiran dan salon kecantikan. banyak pemuda menyisir rambutnya lembut yang wanita memakai gincu berlebihan disana. ya di parkiran. Itu mahasiswa ? oh aku bukan filsuf di jaman romawi yang tau watak seseorang hanya dengan melihatnya berjalan. Blog ku saja berjudul Keledai.
                Siang yang teduh ini, dengan angin sepoi-sepoi membelaiku sayang. Sesekali sengatan matahari menampar wajahku. Mengingatkan aku akan ada kuliah sebentar lagi. Hai Gie, Memang, kau bukan sunan dengan berbagai ritual keagamaan di pemakamannya. Namun andai kau tahu, tepat hari ini aku ingin memeluk makammu sambil menangis haru. Aku merindukan mahasiswa dengan pemikiran kritis sepertimu. Aku ingin memberitahumu bahwa banyak mahasiswa yang lupa akan jati dirinya dan untuk apa mereka disini. Banyak mahasiswa yang acuh pada sistim pemerintahan yang semakin hari semakin membuatku bergidik, mereke seperti bambo dan  bukan mahasiswa yang seperti pohon Oak menantang angin. Banyak orang tua yang akan disakiti. Di tipu oleh anak mereka.  Dan mahasiwa ini lebih memilih kemunafikan dari pada diasingkan.
                “kau tidak akan pernah berhasil berdialog dengan Tuhanmu, sebelum kau berhasil berdialog dengan dirimu”
“aku rindu seorang mahasiswa bukan seonggok pemuda-pemudi yang munafik” mahasiswa tahun 1966.
Aku lupa, aku tidak bisa membuat orang seperti kemauan ku. tapi paling tidak aku bisa membuat orang ingat akan hierarki yang mereka sendiri teriakkan, namun berbeda dengan apa yang dilakukannya. Aku teramat bosan hingga ingin menebangi satu persatu pohon di depan mataku sekarang ini. Membuat kegaduhan, mendengar teriakan. Rasa-rasanya negri ini kelewat merdeka, hingga mereka hanya ingat dua cara,  mencari uang dan makan.
“ makam mu bukan makam sunan dengan segala ritual keagamaan di sebelahnya, aku hany ingin menangis dan memeluk makam mu bila kau saja yang mengijinkan. Rindu ini berlebihan Gie. ”
Harusnya kau dilahirkan di jaman ini Gie, maka kau akan lebih bergidik ngeri dan menghampiriku sambil member bunga belasungkawa atas mahasiswa sepertiku.


Persahabatan Beda Ras



cerpen 
genre : friendship
Originality by Sufirach
Persahabatan Berbeda Ras
 Aku hampir tidak menyangka, dua orang terpenting dihidupku satunya berdarah Jawa, satunya berdarah Tiongkok. Memang, perbedaan Agama ataupun ras tidak menjadi salah satu penghalangku untuk menyayangi dan berbagi kasih dengan siapapun. Namun sebelumnya aku sempat menjaga jarak dengan Orang China. Dengan alasan tertentu yang hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku tidak menyangka aku selalu menekankan sikap siaga setiap kali berurusan dengan orang China, perhitungannya yang matang, komitmen tidak mau rugi yang ia bawa, Feng shui, money oriented dan cara-caranya berbisnis yang aku tahu sangat gesit, mengingat teman-teman ku dulu banyak yang berdarah China. Namun, Sore ini, ada yang berbeda. Seorang pria memarkir motor M-bizz nya dengan kwintalan beras didepan toko ku.  Jelas wajahnya dan perawakannya tidak asing lagi, om Han-Han. Aku sumringah menyambutnya, kesan baik selalu ada setiap kali ia datang kerumah kami. Beliau masih dalam garis keturunan tiongkok memang, akan tetapi baik sifat dan keramahtamahannya sangat kejawaan, dan terkesan lebih ramah ketimbang orang jawa sendiri. Tentu ada alasan… aku sendiri hampir meragukan kebaikan hatinya mengingat dia seorang cina. Bukan SARA atau bagaimana, namun terakhir kali Ibu ku berbisnis dan aku berteman dengan orang cina selalu meninggalan kesan yang kurang baik. Tapi aku percaya, tidak semua orang cina seperti itu, aku punya satu kenalan orang cina yang selalu berharap daging Qurban saat idul Adha jujur saja saat mendengarnya aku terkekeh.
Kembali pada kisah Papa dan Karibnya. Kalau Flashback, dulu saat keluarga kami tinggal di Sidoarjo, om    Han adalah rekan bisnis Papa, mereka membangun usaha bersama dari nol hingga omset puluhan juta perbulan kira-kira bisnis tersebut berjalan selama 8 tahun, tepatnya homeindustry di bidang kosmetik. Hingga akhirnya bisnis tersebut bangkrut karena suatu hal yang tidak bisa ku jelaskan tentunya. Mereka pun menjual mesin-mesin nya kemudian pindah ke Surabaya. Dan setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu, baru kemarin om Han kerumah kami sebagai supplier beras karung di tokoku. Padahal terakhir kali om Han datang di rumah keluargaku di Sidoarjo, saat itu ia dan keluarganya menggunakan mobil mewah dengan pakaian kompak warna hitam elegan.  
Dan kali ini Ada rasa prihatin sekaligus bersyukur.
Saat papaku melihatnya mengangkat 10 karung beras satu persatu, ingatan papa melayang  mengingat bagaiman mudahnya Om Han dulu meminjamkan uang ratusan Juta ke Papa. Dan sekarang harus mendapati sahabat karibnya itu mengangkat beras untuk  papa. Dari tatapan mata Papa, aku tahu ia sedang menahan diri untuk memeluknya.  Aku hampir menitikan air mata. “kalau tidak begini mungkin aku tidak tahu cara bersyukur, kalau tidak begini aku tidak akan bisa menghargai rupiah dan anak istriku” begitulah kata Om Han. Sekelebat pertanyaan memenuhi pikiranku. ‘ada apa dengan dulu ?’ cerita demi cerita, dulu saat bisnisnya dengan papa sukses, om Han melakukan yang kebanyakan pria ‘tidak baik’ lakukan. Oh ayolah pasti kau mengerti maksutku. sedangkan papaku, oke ini bukan Aib lagi, mengingat ini suatu pelajaran bagi kita semua bukan ? jadi dulu papaku seorang ‘player’ tapi itu dulu saat mereka sama-sama berhasil. Papaku memiliki beberapa istri dan aku sudah tidak kaget. Jelas Itulah salah satu pemicu kebangkrutan Papa. Oh Tuhan maha adil.
Satu hal yang aku salut pada ayahku, dari semua cerita om Han, ada satu yang membuat aku bergidik, ayahku bersepedah ke pelosok Madura untuk menjenguk om Han di penjara saat kasusnya dulu. Sendirian… iya, ayahku sendirian. Aku tidak membayangkan, bersepedah sejauh itu apalagi saat itu belum ada jembatan suramadu dan harus menyebrang menggunakan Kapal. Sendirian. untuk menemui sahabat beda rasnya itu. meskipun jam besuk yang hanya dibatasi satu atau dua jam saja . aku tidak membayangkan apa saja yang mereka bicarakan di sel dengan batas waktu sesingkat itu. Om Han-Han mengenang masa itu, aku melihat raut wajah kagum  pada ayahku, ia bilang satu-satunya sahabat yang membesuknya adalah Papa.

Hai Papa, aku tahu kau tidak bisa bermain dumay, khususnya membaca blog ku satu ini. Tapi, aku ingin semua pembaca blog ku tahu sebesar apa sayangku pada papa. Jujur, Semenjak umurku 9 tahun aku menganggapmu sebagai pria yang paling menjijikan, paling tidak setia dan ingin ku buang. Teringat bagaimana kau menyelingkuhi Ibuku dan menghianati putri-putrimu. tapi mendengar cerita om Han-han beberapa hari lalu, anggapan itu perlahan hilang dengan sendirinya. Ingin kubahagiakan papa. Ingin ku beli kembali mesin-mesin yang pernah kau jual dulu. 400 juta. Pasti akan kubeli! Pasti terbeli! Dan untuk om Han-Han, ingatlah om strategi bisnis yang papa dan om han ajarkan saat aku kecil tidak akan sia-sia, aku akan menerapkannya, merintisnya. Aku mempunyai impian bahwa nantinya aku akan merintis usaha bersama anakmu sebagai rekan dan sahabat terbaik. Sama seperti kau dan papaku. aku mencintai kalian berdua.

Sajak Untuk Pujangga


      
Wahai Pujangga, Tidak mudah bagiku menyusun huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi sajak yang sudi kau baca.


Sejuk
Seperti deru angin
Pelan..
Menyibak tiap helainya
Lembut....
Khas beledu itu
Lalu Sejuk ...

            Buram
Bila berkilah
Pergilah
Bila masih berkilah
Berkacalah pada kubangan lumpur
Melihatmu
Seperti melihat santapan
Buram
Begitu katanya.

                             Jawaban Keledai
                   Tatapan nanar itu
Ingin ku buang
Jauh
Jauh
Semakin jauh
Ke sebrang sana
Dimana tidak ada aku
Atau kau.
Bertanya pada keledai
Jawablah
Bahkan hanya satu kata.



originality by Sufirachmani 


trip to Gili Labak



                                         ini mamah uus , dia ngasih warna tersendiri selama perjalanan. :)


Terimakasih kawan-kawan pernah membawaku menginjakkan kaki ke Gili Labak, pantai terindah ke dua setelah pantai yang aku kunjungi sebelumnya di banyuwangi.
H-1
Pertama makasih banget buat fisal yang mau maunya ngijinin ke orang tua ^^ meskipun papa rada songong sih kalo ada temen cowok ngijinin pergi apalagi Gili Labak itu kan ga deket. meskipun cara Fisal ngijinin sama presentasi kelas nggak jauh beda sih. well, thx ya

hari H
sore harinya, aku mengemasi baju dengan antusiasnya, semua barang yang sekiranya perlu dibawa tidak pernah ketinggalan, termasuk obat. malam harinya Dicky(anak ku) menjemputku, secara perhitunganku pengalaman kali ini lebih mahal dan lagi pula ini kali pertamaku bersepedah motor ke tempat sejauh itu. nice vacation, nice trip it's worth! aku ga ngerasa rugi sedikit pun.
malam hari nya, kami  memtuskan memilih tempat start di lokasi sekitar glam rock.
well, pengalaman di perjalanan memberikan bumbu-bumbu tersendiri selama trip. aku suka ^^ solidaritas mereka. tidur di pom bensin, si Anggi yang pinjem pisau tukang tahu buat motong sarung tangannya, Romantisme uus dan romeonya hmm... Alip ? she's too perfect to be desribe. or I dont think so that I know well bout him.

        sesampainya di pelabuhan sumenep kami menyewa perahu langsung ke tujuan.
harusnya itu salah. untuk kalian yang akan memulai perjalanan ke gili labak, harusnya naik perahunya sampai desa Talango, setelah dari talango melanjutkan kembali menggunakan perahu ke gili labak. sebab apabila kita langsung dari sumenep ke gili labak akan menghabiskan sekitar 2 jam terombang-ambing di atas laut. itu menakutkan sekali buatku, sebab aku tidak tau kapan ombak menggulung perahu kita itu bisa saja bukan ? selain itu hal tersebut bisa memicu mual serta muntah-muntah, contohnya bang alip. kesalahanku, aku tidak membawa minyak kayu putih. padahal itu penting sekali.
sesampainya di Gili Labak kami melanjutkan snorkling dan ah kenapa aku yang tidak bersemangat.
pesanku satu lagi, untuk kalian yang ingin bersnorkeling ria jangan lupa membawa kaus kaki khusus untuk menyelam, karena kita tidak tahu bagaimana terumbu karang disana , atau bahkan bulu babi. pengalamanku, saat kita menyelam menggunakan kaki telanjang, akan sakit sekali mengingat terumbu yang tajam - tajam dan kasar. paling tidak sempatkanlah membawa kaus kaki. jangan biarkan kaki telanjang ya gaes.
        Aku lebih banyak makan ketimbang mengambil foto. di gili labak juga ada warung loh! bayangkan, aku habis 2 mi goreng dengan satu bungkus nasi (sssttt jangan bilang temanteman ya). hehe...saat kapal kecil kami akan berangkat Bang Alip bangun, dan karena Si kevin udah terlalu lelah motoin teman-temannya dari tadi, alhasil aku yang nawarin buat motoin dia. oke kami berdua berjalan ke pinggir pantai itu sambil berfoto ria, honestly aku memotretnya diam-diam sih sebelum di minta. tapi aku memastikan diriku sendiri for do not do the stupid dan ku hargai caranya menganggapku teman.


tuh hasil jepretan bang Alip. bagusya pantainya ^^ semakin ke dalam akan semakin terlihat terumbu karangnya sebetulnya.

sekitar pukul dua kita diharuskan kembali ke pelabuhan sumenep. karena takut air laut akan pasang. tapi jujur saja, ombaknya tidak se seram saat berangkat tadi.Kami memutuskan mencari makan di ... ah aku tidak ingat tempatnya. yang jelas tempat itu mirip seperti sentra kuliner tapi ala Madura. jujur aku kenyang ingat cara makanku tadi di pantai. ugh... malu sekali, masa cewe makan sebanyak itu!!! akhirnya aku dan bang Alip memtuskan mencari minum saja. SAJA tidak ada apa-apa. sampai saat itu aku bisa menjaga perasaanku. BISA.

Selanjutnya acara dibuka oleh uus dan pasangannya acara Kunci motor hilang di pom bensin. yap! tapi apa harus main cakar-cakar an, lempar helm, atau tendang-tendangan? mbak us mungkin masih labil. akhirnya kita semua mencari ke sudut-sudut kejadian perkara alias dimana tepatnya kunci tadi. disitu terlihat kontras antara solidaritas dan tenggang rasa. tidak ada satu diantara mereka yang pulang duluan. semua menuggu, mencari, terlebih Hasan dan kevin yang sampai harus balik ke kota mencari ahli kunci.
yang akhirnya setelah satu setengah jam kunci tersebut ditemukan di kantung celana pacarnya uus. oh God, ingin makan tembok rasanya. aku tertawa lepas saat itu.
at least that was the first trip that show me how important naughty sometimes lol. I lie to my parents that I use car in fact not.





Waktu


hallo blogies ^^ lama juga nih ga nge blog
.
tau gak sih , ada hal yang lebih kejam bahkan melebihi hittler. menurut kalian apa? anyone knows?

kalau menurutku sih "waktu"
1. saat sedih mengantar kepergian orang ke surga, siapa lagi yang menghapus memori kita tentang nya nanti kalau bukan wakktu? ya aku paham, ada saat dimana kita akan mengingat dan akhirnya lupa.

2. sekarang saat kau ada di depan ibu atau ayahmu, saat mereka tertawa, lalu ada saat dimana mereka mulai menua, siapa yang mengikis umur mereka? ya waktu!

waktu merebut semua yang indah, tapi juga mendatangkan masa yang belum tentu indah pula(masa depan itu nyata tapi rahasia),
 "waktu" merenggut semua dari kita, dan dengan mudahnya ia mengganti sesuatu itu dengan yang baru , tanpa bertanya terlebih dahulu, seberapa berartinya sesuatu yang telah ia ganti itu.

kenapa waktu tidak berhenti saja?
bahkan saat terpejam, dan tak melakukan aktivitas pun, "waktu" terus berjalan. kenapa tak se irama saja? kenapa "waktu" tak bisa toleran ? egois sekali bukan.
bahkan saat kerabat meninggal, ia tak ikut sedih, ia tak ikut berhenti , namun ia terus berjalan, ya! "waktu" hanya terus berjalan.

"hei Waktu! berhentilah sejenak. aku sedang ingin menikmati kebahagiaan ini sebentarr saja! keluarga yang lengkap, canda yang hangat."
tapi "waktu" tetap pada pendiriannya, ia hanya berjalan dan berjalan.
kenapa aku bisa bilang waktu lebih kejam dari hittler?
Hittler sudah tewas, dan sudah menjadi bagian dari sejarah, namun "waktu'? sampai sekarang ia masih tetap pada pendiriannya yakni "berjalan"  ia masih ada, dan bukan bagian dari sejarah.tapi dia bungkam berjalan dengan masa bodonya.

cerpen




Tema : Cita-Cita


“Menggapai Cita dengan Caraku”

Originality by Sufirach
*cerita ini hanya fiktif. tidak ada unsur kehidupan pribadi. selamat membaca







Menggapai Cita dengan caraku
Liburan musim ini, tidak begitu berarti buatku, liburan yang harusnya habis dengan tawa lepas, berkumpul dengan keluarga, ataupun sekedar bermain dengan teman-teman. Tapi di liburan kali ini aku harus bisa ber-lapang dada menerima pengumuman bahwa aku tak naik ke kelas XII . sebenarnya aku tak nakal, ataupun tukang onar, bahkan aku tak pernah bolos atau terlambat sekolah sekalipun. Namun, aku hanya “kurang bisa” atau lebih jelasnya, aku susah memahami materi-materi sekolah  dan setelah menerima vonis tersebut, bagai disambar petir, ayah ku bersih keras memindahkan ku di sekolah swasta yakni “Putra Bangsa” oh ya! Aku lupa , Namaku Vera Veronica, dan kini aku masih duduk di bangku kelas XI dengan prestasi pas-pas an tentunya.
Pagi yang indah, harum kuas dan cat air semerbak di seantero kamarku, saat aku membuka mataku, hal pertama yang kulihat ialah menikmati lukisan pemandangan yang ku buat di langit-langit kamarku. Seketika aku termemnung, teringat saat TK dulu “Vera kalo udah gede mau jadi apa” saat ditanyai ingin menjadi apa, dengan polosnya kadangkala kita menjawab “dokter!”, “presiden!” “guru!” “tentara!” , kemudian saat remaja dengan pertanyaan yang sama, kita akan menjawab “akpol” “wanita karir” “ingin membahagiakan orang tua.” Dan sekarang aku siswi dengan prestasi dibawah standart dengan tegas akan menjawab, aku akan menjadi apa adanya diriku. Ya! Aku ya aku, “Kita hanya bisa berusaha, soal nanti kita akan menjadi apa, biar jadi kehendak Tuhan”. aku berusaha kok, dirumah , aku belajar, disekolah aku berdiskusi pelajaran dengan teman-teman. Tapi naik atau tidak naik kelas itu sudah suratan-Nya bukan? Sekali lagi , aku bertanya pada diriku, kenapa aku yang gagal? Dan saat itu pula, diriku yang lain menjawab, ‘itu bukan sebuah kegagalan, tapi pengalaman, semakin sering kita mencoba, lalu gagal, akan sering pula kita mendapat pengalaman , dan disitulah kita akan menemui letak kesalahan kita, lalu memperbaikinya. Itulah kenapa banyak orang bilang kegagalan ialah kesuksesan yang tertunda’ kebanyakan orang menyebut jawaban tadi ialah “kata hati” namun aku menyebutnya “diriku yang lain”.
“Vera!!! Belajar!” suara ayah di ambang pintu mengagetkanku, aku pun loncat dan menjawabnya dengan terkaget-kaget.
“ayah! Bukannya ini minggu pagi”
“apakah yang namanya belajar itu harus senin, atau selasa pagi saja? Ayo cuci muka! Terus ambil bukumu, ayah mau lihat pekerjaan sekolahmu. Ayah tunggu dibawah Vera.”
“baik ayaah..”
Iya, ayah benar, bahkan saat minggu pagi kita harus belajar , barusan aku belajar cara bersabar. Huft! Ayah ini benar-benar deh, bahkan sebelum aku sempat makan, ayah sudah menyuruhku belajar. 
Saat aku membalikan badan, aku tersadar bahwa sedari tadi kamarku bah kapal pecah, kuas-kuas tergeletak disana-sini, cat air yang berserakan bahkan terinjak olehku dan catnya meluber kemana-mana, tak ketinggalan sketch book ukuran jumbo bertebaran di hampir semua lantai kamar. 
Jujur, aku tak ahli dalam setiap mata pelajaran namun pastilah aku memiliki kelebihan , yakni “melukis” entah, saat aku sedang menorehkan kuas, aku merasa menjadi “dirirku” penuh percaya diri dan sangat optimis. Aku sering mengikuti perlombaan saat SMP dulu, dan sempat menyabet gelar Miss Art 2010 . Tapi itu dulu, dan saat SMA aku tak bisa mengumbar kreatiitas ku seperti dulu, teringat ucapan ayah dulu “meskipun kamu pandai soal melukis, tapi kurang bisa pelajaran akademis gak ada gunanya Vera...masuk universitas kan juga butuh nilai akademis”
Sudahlah itu dulu, sekarang yang ada ialah Vera yang baru dan semangat yang baru.
“ayah , ibu Vera berangkat dulu ya...”
“lho kemana siang bolong begini”
“mau ke toko buku, cari referensi.” Ucapku singkat lalu enyah.
Sesampainya di toko buku, aku melewati rak khusus lukis, berbagai alat melukis dijual disana, namun mataku tertuju pada satu hal
“beasiswa lukis?” aku membaca sekilas , tertera diatasnya “Lomba Lukis Akbar untuk SMA sederajat. –Germany scholarship-”
Tak pikir panjang, aku pun membeli perlengkapan lukis , kuas dengan berbagai macam ukuran, dan selebihnya aku belikan cat air , kanvas serta pallet.meskipun cukup menguras kantung, tapi kali ini niatku untuk mengikuti lomba lukis tak ter elakkan lagi, jujur saja, selama aku di SMA , aku sudah sering menahan rasa ingin mengikuti perlombaan lukis , namun kali ini aku tak peduli!  Aku harus bisa! Paling tidak aku mencoba nya.
Sesampainya di rumah , aku parkir mobil di garasi, semua barang yang ku beli ku simpan sementara di jok belakang mobi, dan saat semua orang tertidur, aku mengambilnya.
Pukul 00.15 aku mengendap-endap ke garasi mobil, kemudian mengambil alat lukisku di jok mobil, setelah semua barang tertata rapi, di tengah malam itu aku melukis, melukis .... astaga aku lupa tema yang akan dipakai melukis nantinya di perlombaan. Ah tak peduli dengan tema, larut malam begini aku hanya ingin melukis seperti biasanya, yakni melukis murni dari imajinasiku, semua emosi yang ada ku torehkan pada kuas, tiap torehan yang kubuat kurasakan! Dan buatku sangat nyaman... apa ini yang dinamakan “soul of Art” ?
Entahlah tapi melukis itu nikmat, semakin lama, imajinasiku menuntunku melukis sosok gadis yang berhasil dengan karirnya, gadis dengan senyum sumringahnya melempar topi wisuda.
Kring.....Kring....Kring....Alarm berbunyi, aku pun lekas melompat dari kursi
Astaga!!! Sudah pagi... tepat pukul 04.30 aku pun segera menarik selimut dan lekas tidur.
Hari sekolah seperti biasa, tak ada yang istimewa disana, hanya saja...
“oh iya, pengumuman buat hari ini , UAS kita di undur sekitar 3 minggu kedepan ”
“hah!!” aku tercengang mendengar pengumuman Riyo selaku ketua kelas, bukankah itu bertepatan dengan lomba lukis yang akan ku ikuti, seraya tak percaya aku memastikan jawaban
“itu udah fix belom?”
“sudah Ver, sudah dirapatkan oleh guru-guru”
Aku terdiam.
Sesampainya dirumah, ibu bertanya
“kenapa Ver, kok muka nya murung gitu? Remidi ya?” aku memandang ibu kecut kontra dengan bercandaanya barusan.
“iyadeh ibu bercanda” ucap  ibu sambil tersenyum.
“kalau ibu balik ke SMA lagi, ibu bakal milih mana? Lomba masak atau ujian?” aku bertanya seperti itu, karena aku faham betul bahwa hobi ibuku ialah memasak.
            Ibuku menjelaskan panjang lebar, soal pertanyaanku barusan, namun tetap saja aku bimbang harus bagaimana. Kalau ibu dan ayah yang ditanyai, jelas saja mereka memilih Ujian. Jujur saja, mereka faham betul maksut pertanyaanku barusan. Melukis, atau Ujian?.keputusan pun segera ku ambil, aku lebih memilih Ujian, ya! Kali ini tekad ku sudah bulat, aku akan mengikuti Ujian ketimbang Lomba lukis. Semoga pilihanku kali ini benar. Cat air, pallet,kanas, kuas dan peralatan lukis lain ku kemas ke dalam kardus TV besar. Lalu ku masukan gudang.
            Karena tak ingin mengecewakan pilihanku, entah disulap seperti apa, aku merasa termotivasi belajar. Belajar, belajar dan belajar. Hanya itu sekarang, tepatnya sekarang hingga aku lulus nanti. Tak ada kuas, cat air atau kanvas. Aku tau ada sebab akibat di dalam keputusanku ini. Jika aku lulus dengan prestasi bagus nantinya, aku bisa belajar di universitas yang ingin ku masuki . Dan sebelum semua itu tercapai, sekarang aku harus belajar 100 kali lebih keras dari biasanya. Kali ini bukan kegagalan, namun hanya ketertundaan.

18Bulan  Kemudian


“Vera, kamu pakai kebaya ungu ya! Ibu pakai kebaya merah”
“iya bu”
Aku mendapati diriku disana, di depan kaca, sosok gadis itu yang dulunya takut sekolah, yang dulunya menjadi musuh buku-buku pelajaran, kini lulus dan di wisuda. Seakan mimpi, ayah dan ibu sempat terharu saat mendapati pengumuman bahwa aku menyabet nilai UN tertinggi se Jawa Timur. Jangankan mereka, aku saja terkaget-kaget. aku masih terperangah tak percaya dengan gadis di cermin itu. Namun, semua itu terasa kurang lengkap, saat apa yang menjadi cita-cita ku belum ku gapai. Seorang Pelukis.
            Sesampainya di sekolah, ayah dan ibu dengan bangganya menggandeng ku memasuki gerbang sekolah, guru-guru tak pernah menyangka bahwa siswa yang menyabet UN tertinggi di Jawa Timur, berasal dari sekolah swasta sederhana yang dulunya sempat tak naik kelas.
Aku pun menyampaikan pidato singkat, kemudian menerima ijazah dan pulang.
Di perjalanan menuju rumah, ayah menyerahkan amplop coklat lumayan besar
 Sebelum sempat ku baca isinya, di kop surat tersebut tertera University Of Art Italy
Seketika tanganku gemetar membaca isi surat. Perlahan aku menerjemahkan maksud surat tersebut yang awalnya ditulis dalam bahasa Inggris. Aku menangis terharu tak sanggup berkata-kata , kemudian ayah menjelaskan semuanya, bahwa ayah mengirimkan salah satu lukisanku ke perguruan tinggi dengan label Italy Foundation Scholarship . Dan inti surat tersebut ialah, pihak penyelenggara beasiswa tersebut ingin melihatku melukis sekali saja, untuk memastikan itu bukan lukisan ayah, melainkan lukisanku. Aku pun tertawa. 
            Namun, inti dari segala inti adalah, aku telah belajar cara menggapai cita-cita sesuai versi ku, aku senang mendapati bahwa tak ada koreksi dengan mindset ku dulu “Kita hanya bisa berusaha, soal nanti kita akan menjadi apa, biar jadi kehendak Tuhan” 







“TAMAT”


Copyright 2009 My Life My Rules. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates